Beberapa waktu lalu ketika saya pulang membeli buku dr gramedia. Rasa saya terhentak keras pada kebanyakan novel atau buku cerita disana. Sebuah pertanyaan besar menindih otak ini,’dimana orang2 superspecial n punya Roh terbesar sepanjang masa itu??’ Dunia literatur bidang storytelling yang dashyat sepanjang abad itu dikuasai bukan oleh Juruslamat kita. Dari pengalaman saya, mereka sudah mulai membangun kerajaannya disana. Dimanakah eksistensi orang2 yg diselamatkan? Kemanakah pembawa kabar baik itu menovel? Kerajaan Juruslamat harus punya 60% takhta disana,setidaknya. Waktu kedatangannya sebentar lagi, tapi kita masih punya waktu. Kalimat yang sudah lama digaungkan ini harus dipraktekan,’sekarang waktunya untuk kita bangkit’ Saya setuju, kita harus memulai sejarah kerajaan surga.,karena itulah khasiat manusia ber-Juruslamat di Indonesia ini. Mari novelis2 Kerajaan Allah,kabarkan sukacita n kebenaran pada Indonesia.
Arsip untuk ‘perasaan’ Kategori
Thinkin about film..
22/06/2009Kenapa kemuliaan Allah dalam media yang satu ini kurang eksis yah di indonesia? Malahan moral yang kurang berkenan yang berjaya di Indonesia. dalam media sinetron pun sama saja.. Saia masih tidak puas dengan keadaan ini. Mengisi jadwal tayang, iya, mengisi firman, tidak. Packaging film dan sinetron pun kurang layak untuk memuliakan Allah. Apakah masih banyak anak Allah meng-amin-kan ketidak mampuan mereka untuk terbit bagai mentari? Saia sendiri tidak mau seperti itu. Saia mau menjadi bagian dalam salah satu sejarah besar Sang Allah.
Mari. Kita perlu ambil bagian dalam persiapan kedatanganNya. Dalam sebuah percakapan dengan orang bijak, kami yakin Tuhan tidak akan datang dalam bentuk megazord yang tinggi nan besar, tapi akan ada dalam sebuah kotak televisi atau layar film. Sehinga tidak ada alasan untuk tidak pernah mendengar Kabar Baik, namun segala bangsa dapat mendengarnya dan bertekuk lutut dihadapanNya. Bagaimana menurut kalian?
Wahyu7:9 “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.”
Amin. Glory to God.