Terik matahari menyinari jalanan di Bandung. Terlihat Rudy beserta ibunya hendak pergi ke Gramedia Merdeka. Saat itu jalanan tidak ramai kendaraan, namun tak disangka, 2 pengendara motor yang kejar-mengejar menyerempet mereka yang sedang mengendarai motor dengan santainya. Alhasil Rudy beserta ibunya terjatuh, karena tas penyerempet yang terkait pada ’stang’ motor Rudy. sakit yang tak terperikan menghantam Rudy bagaikan hantaman Hulk: The Incredible. Tangan dan dengkulnya mengeluarkan darah. Kuku jari ibunya sedikit terpotong dan kakinya juga berdarah. beberapa orang membantu Rudy mengangkat motornya dan menggiringnya ke tepi jalan, agar tak mengganggu kelancaran jalanan. Pengendara motor yang terhenti akibat terhalang motor Rudy hanya dia menunggu motornya segera disingkirkan, tak ada rasa tolong menolong yang diajarkan PPkn dahulu kala. Sayang sekali..
2 pemuda, penyerempet, tadi diberhentikan oleh orang sekitar untuk bertanggung jawab pada kecelakaan ini dan bertatap muka dengan sang korban. Tubuh mereka gemetar ketakutan akan kecelakaan itu. Rudy pun tak tahu harus berlaku seperti apa kepada 2 pemuda ini.
“Ngga apa-apa A?”
“Ngga apa-apa kamu tanya?” balas Rudy sambil memperlihatkan luka ditangannya.
“Motor tadi yang mepet kita.” dengan tubuh yang masih gemetar
Dalam pikirannya, Rudy kecewa dengan yang telah mereka katakan. Seperti kebanyakan orang Indonesia yang senang mennangguhkan kesalahan pada orang lain, agar dirinya tidak dipersalahkan, tanpa berkaca pada dirinya sendiri dulu.
“Mau pada kaemana sih emangnya?” tanya Rudy
“Kita cepet-cepet mau pergi ujian”
“oh. Ujian ya? ujian dimana?”
“XXXX”
“Kenapa atuh perginya mepet?”
“Iya tadi sih motor yang itu mepet,” mereka menjawab dengan jawaban tidak sesuai pertanyaan.
“Bukan mepet itu, mepet perginya!”
Dalam pikiran dan hati Rudy, dia melihat dirinya sendiri yang suka mepet kalau pergi, walau tak pernah mencelakakan orang. Dia merasa jika marah tidak akan ada gunanya, dan dia pu marus mengubah kebiasaan itu agar tidak ada terjadi hal serupa. Dengan menasehati pemuda tersebut dan dirinya dia berkata
“Kalau begitu perginya jangan mepet donk laen kali.”
“Iya aduh, kita bayarin atuh buat obatin lukanya”
Dalam pikirannya yang kecewa lagi dengan perkataan mereka, Rudy berkata,
“Ahh! Duit mah ngga jadi masalah!”
Lalu Rudy memalingkan mukanya hendak naik ke motornya. Di sana pemuda itu berbicara pada ibunya,
“Maaf ya bu.”
“Nya laen kali tong kekebutan wae atuh naek motorna.”
“Iya bu ngga lagi”
Mereka pun pergi duluan lalu Rudy dan ibunya juga berputar arah kembali ke rumahnya. sekilah Rudy melihat pemuda tadi berbicara maaf dengan bahasa tubuhnya.
***
Di Rumah, Rudy berteriak kesakitan karena perih lukanya yang dia bersihkan. Saat hendak berdiri, kepalanya pusing tak terkira, jiwanya seakan hendak keluar, mau pingsan. Diapun terduduk pada toilet dan badannya menggigil kaget karena darah yang keluar. Walau darahnya sedikit saja keluar, tapi Rudy yang tak dapat melihat darah sungguhan, mengigil. Setelah cukup kuat untuk berdiri kembali, dia merebahkan badannya di ranjang, sambil kesakitan akan lukanya itu.
Dalam sakitnya dia teringat akan Yesus yang terluka saat menjalani Jalan SalibNya. Darahnya yang keluar dari luka sekujur tubuh akibat pecutan para algojo, bajunya yang tidak enak untuk dipakaikan pada tubuhnya menggesek-gesek luka-lukanya itu, debu yang menghinggapi lukanya, lemparan tomat yang mengenai mukanya yang luka, dan terlebih lagi salib yang harus dia pikul di atas luka-lukanya itu. Semuanya lebih dari pada luka yang Rudy rasakan saat itu. Ucapan syukur yang keluar dari mulut Rudy, menyanjung Yesus yang rela memikul salib dengan rasa sakit yang amat sangat, hanya untuk menebus dosa manusia yang seharusnya disalib. Begitu banyak pelajaran dan pengalaman yang dapat Rudy terima Kamis kemarin. Bahkan masih banyak lagi yang ingin Rudy ceritakan, tapi akan dia tulis pada blog yang selanjutnya..